Rabu, 13 Juli 2022

Depresi Karena Patah Hati? Begini Cara Mengatasinya

Ditulis oleh Theofilus Richard
Ditinjau oleh : dr. Anindita Tathya Jati

Perpisahan dengan orang yang disayangi bisa menimbulkan luka di dalam batin kita. Begitu juga bila terjadi dengan kekasih atau pasangan. Tidak sedikit orang yang jatuh depresi karena patah hati.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Clinical Child & Adolescent Psychology menyebutkan, depresi dapat berkaitan dengan kualitas hubungan percintaan. Hal ini berlaku baik pada remaja maupun dewasa.

Menurut ahli, semakin tingginya tingkat depresi seseorang dapat paralel dengan semakin memburuknya kualitas hubungan percintaan yang dialami.

Lalu, apa saja yang biasanya dialami orang yang depresi karena patah hati?

Seperti Ini Gejala Depresi Karena Patah Hati

Saat patah hati, yang segera terasa adalah sedih dan kesepian.

Rasa sedih setiap orang bisa berbeda-beda. Sejalan dengan waktu rasa ini akan hilang, namun ada juga yang berlarut hingga berujung pada gangguan kesehatan mental.

Berikut adalah beberapa gejala depresi yang bisa Anda alami ketika patah hati:

  • merasa tidak punya harapan
  • kehilangan berat badan
  • banyak tidur atau kurang tidur
  • kehilangan minat untuk melakukan apa pun
  • tidak bisa menikmati hal-hal yang sebelumnya disukai
  • Menganggap diri tidak berharga
  • hati terasa hampa
  • mudah lelah, lesu, dan tidak memiliki energi
  • berpikir tentang kematian atau bunuh diri

Baca Juga: Serupa Tapi Tak Sama, Apa Perbedaan Stres dan Depresi?

8 Cara Mengatasi Depresi Karena Patah Hati

Depresi yang dialami akibat patah hati tidak boleh dibiarkan dengan harapan akan berlalu dengan sendirinya. Inilah yang bisa Anda lakukan untuk bangkit dari depresi dan hidup lebih bahagia:

1. Konsultasi ke Psikiater atau Psikolog

Saat merasakan gejala depresi setelah putus cinta, jangan sungkan untuk segera cari pertolongan profesional.

Pasalnya, jika dibiarkan begitu saja tanpa adanya bantuan profesional, gangguan kesehatan mental ini akan mengganggu rutinitas Anda.

Psikiater dan psikolog akan membantu dan mendampingi Anda agar bisa kembali seperti sedia kala.

2. Fokus pada Diri Sendiri

Saat patah hati, pikiran kita mungkin penuh dengan kemarahan dan kesedihan. Bahkan, sangat mungkin kita ingin balas dendam pada orang yang menyakiti kita.

Namun sebenarnya, yang paling penting saat kita patah hati adalah fokus pada diri sendiri.

Perhatikan kesehatan dan makan yang sehat. Lalu, berolahragalah untuk menyegarkan tubuh dan pikiran.

Lakukan pelan-pelan dan tak perlu terburu-buru ingin mengobati luka akibat patah hati. Jalanilah prosesnya sampai Anda benar-benar bisa move on.

3. Jangan Terjebak di Masa Lalu

Di kala galau, normal saja bila kita memikirkan masa lalu. Mengenang hal-hal baik dan buruk yang pernah kita alami.

Namun, hal ini ternyata bisa menghambat proses healing. Selain itu, mengingat kenangan tersebut dapat membuat kita akhirnya jadi sangat stres.

Nah, supaya tidak terjebak di masa lalu, jangan sampai Anda melihat apa pun yang berhubungan dengan mantan kekasih atau gebetan. Sebagai contoh, blokir semua akun media sosialnya, bakar fotonya, dan lain-lain.

4. Temukan Kebahagiaan yang Lain

Selain berusaha melupakan masa lalu, Anda juga harus mencari sumber kebahagiaan yang lain. Hal ini ditujukan untuk menggantikan posisi orang dari masa lalu yang pernah membuat Anda bahagia.

Kebahagiaan baru tersebut bisa berupa pengalaman yang baru, bertemu orang baru, ataupun menekuni hobi baru.

Meski rasanya enggan keluar rumah atau melakukan apa pun, paksa diri Anda untuk melakukannya karena pengalaman baru akan membuat Anda merasa lebih baik.

Misalnya, Anda dapat memulainya dengan melakukan solo traveling, bergabung ke sebuah komunitas, atau rutin bersepeda di akhir pekan.

5. Berbicara Dengan Orang Terpercaya

Depresi karena patah hati bikin kita sedikit menghindari berinteraksi dengan orang lain.

Namun, pertimbangkan untuk bicara dengan satu atau dua sahabat sesekali. Berbagilah beban pikiran Anda dengan mereka.
Ini cukup efektif untuk mengurangi tingkat stres.

6. Jauhi Tempat Favorit Masa Lalu

Saat masih bersama, Anda dan kekasih pasti punya beberapa tempat yang sering dikunjungi. Misalnya, tempat main boling, bioskop, atau tempat liburan.

Nah, untuk mengurangi tingkat stres akibat patah hati, hindarilah tempat penuh kenangan itu.

Temukan tempat baru yang bisa bikin Anda merasa damai dan dikelilingi orang yang peduli dengan Anda. Ambil cuti untuk berlibur ke tempat yang belum pernah Anda kunjungi.

Ini membantu mengganti memori indah bersama si Mantan sekaligus menemukan tempat favorit baru.

7. Jangan Buru-buru Buka Lembaran Baru

Terkadang, saat patah hati, kita berpikir harus segera punya pengganti si Mantan. Tapi, ternyata terlalu cepat memutuskan untuk berkencan lagi hanya akan menjadikan pasangan baru kita sebagai pelarian.

Bila hubungan baru dimulai tanpa belajar dari kesalahan pada hubungan sebelumnya, Anda berpotensi mengalami akhir yang sama.

Selain itu, Anda dapat menyakiti orang lain karena tidak menjalani hubungan dengan sepenuh hati. Lebih baik, tunggu sampai Anda benar-benar siap, ya!

Baca Juga: Apa Itu “Quarter Life Crisis” dan Bagaimana Cara Mengatasinya

8. Buat Tujuan Hidup Baru

Depresi karena patah hati bisa membuat semua harapan jadi ambyar. Karena itu, cobalah menyusun tujuan hidup yang baru.

Anda bisa punya resolusi baru untuk karier, bisnis, atau hobi. Misalnya, Anda dapat membuat target seperti:

  • "Tahun ini saya harus lolos tes CPNS!"
  • "Tahun ini saya harus buka usaha dari tabungan dan jadi pengusaha sukses!"
  • "Tahun ini saya akan bergabung dengan komunitas sepeda motor trail. Saya harus bekerja keras untuk membeli sepeda motor dan menghidupi hobi saya!"

Hal ini akan membantu Anda fokus pada hal lain selain masalah percintaan.

Itulah sejumlah cara mengatasi depresi karena patah hati.

Jika Anda mengalami gejala depresi, jangan ragu untuk segera lakukan telekonsultasi dengan psikolog atau psikiater di AlteaCare!

Yuk, unduh aplikasi AlteaCare dan segera buat janji dengan psikolog dan psikiater andalan Anda!




Sumber:

  • Vujeva, H. M., & Furman, W. (2011). Depressive symptoms and romantic relationship qualities from adolescence through emerging adulthood: A longitudinal examination of influences. Journal of Clinical Child & Adolescent Psychology, 40(1), 123-135.
  • Verywell Mind. Diakses pada April 2022. An Overview of Breakup Depression
  • Verywell Mind. Diakses pada April 2022. How to Heal a Broken Heart When a Relationship Ends
  • Psych Central. Diakses pada April 2022. 10 Tips for Healing a Broken Heart
0 Disukai
0 Komentar
Artikel lainnya
9 Tanda Lingkungan Kerja Toxic. Segera Bertindak!
Ingin kesehatan mental terjaga di kantor? Hindari rekan kerja yang toxic. Pelajari juga tanda lingkungan kerja toxic berikut ini. Yuk, langsung cek!
Selasa, 16 Agustus 2022
Mau Keluar dari Toxic Relationship? Ini Tips dari Ahli!
Keluar dari hubungan yang toxic bikin pikiran jadi tenang. Kata psikolog cara ini bisa Anda lakukan. Simak selengkapnya di sini!
Senin, 15 Agustus 2022
Aplikasi Kencan Bisa Bikin Lelah Mental, Ini Alasannya!
Aplikasi kencan sering jadi jalan pintas agar dapat jodoh. Tapi, bila dipakai berlebihan bisa berdampak pada kesehatan mental. Simak alasannya!
Senin, 15 Agustus 2022