/
/
Penderita Penyakit Ini Tidak Boleh Diberi Vaksin COVID-19
Penderita Penyakit Ini Tidak Boleh Diberi Vaksin COVID-19
COVID-19
Para penderita gangguan autoimun perlu dapat izin dokter sebelum diberi vaksin COVID-19 - AlteaCare | Foto: Envato

Program vaksinasi COVID-19 yang dicanangkan pemerintah adalah salah satu bentuk perlindungan terhadap penyebaran virus corona. Tapi, ternyata tidak semua orang bisa divaksin. Ada juga yang tidak boleh divaksin COVID-19. Penyebabnya? Karena adalah penderita penyakit tertentu.

Sebagian penderita komorbid sebenarnya masih bisa mendapat vaksin COVID-19, sejauh kondisi penyakitnya terkontrol. Dan, mereka terlebih dulu melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis yang merawat, sebelum kemudian mendaftar untuk diberi vaksin.

Langkah ini perlu dilakukan supaya pemberian vaksin tidak memperparah kondisi penyakit yang dialami. 

Tapi, ada juga penderita penyakit yang bisa langsung ditolak saat mendaftar vaksinasi, lo.

Siapa sajakah mereka?  Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!

Daftar Penderita Penyakit yang Tidak Boleh Diberi Vaksin COVID-19

Berikut ini adalah jenis penyakit yang membuat Anda tidak bisa mendaftar untuk menerima vaksinasi:

1. Demam atau flu

Bila Anda sedang menderita demam atau flu, sebaiknya menunda vaksinasi terlebih dulu.

Mungkin bagi Anda kondisi ini sepele dan hanya flu biasa. Tapi, ketika sakit, kondisi sistem imun Anda sedang mengalami gangguan karena sedang berupaya melawan infeksi yang diderita.

Bila tetap memaksa untuk divaksin, dikhawatirkan dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang lain. Lebih baik tunda sebentar hingga Anda sembuh total, barulah mendaftar vaksinasi!

Baca Juga: Panduan Vaksinasi Booster COVID-19

2. HIV/AIDS

Orang dengan HIV /AIDS tidak disarankan untuk diberi vaksin COVID-19. Namun, hal ini tidak berlaku untuk semua penderita gangguan autoimun ini.

Mereka yang tidak boleh menerima vaksin adalah orang dengan AIDS, yang memiliki kadar sel CD4 di bawah 200. Kondisi kadar CD4 seperti ini bisa meningkatkan risiko terkena penyakit berat.

CD4 adalah sel darah putih atau limfosit, yang merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh. Sementara orang dengan HIV/AIDS perlu menjaga kesehatan dan jangan sampai sakit.

3. Lupus

Lupus juga merupakan salah satu gangguan autoimun kronis, yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sejumlah organ jaringan tubuh sendiri. Beberapa organ tubuh yang terdampak oleh gangguan autoimun antara lain adalah sendi, kulit, ginjal, paru-paru, otak, dan jantung.

Kondisi tubuh yang rentan membuat orang dengan lupus mudah terpapar COVID-19. Begitu juga bila mereka termasuk pengidap lupus yang harus minum obat secara rutin.

Mereka pun jadi semakin rentan untuk terpapar infeksi, karena obat-obatan untuk lupus bekerja dengan cara menurunkan aktivitas sistem imun yang berlebihan.

Kondisi ini tentu bisa berbalik menjadi berbahaya ketika mereka menerima vaksin. Namun, penderita lupus masih punya peluang untuk bisa divaksin, asalkan diizinkan oleh dokter spesialis yang menangani penyakitnya.

4. Hipertiroid

Orang dengan ganggguan hipertiroid juga tidak boleh divaksin karena termasuk penderita gangguan autoimun. Seperti jenis penyakit autoimun lainya, penderita hipertiroid akut disarankan tidak menerima vaksin.

Namun, jika dokter memberi lampu hijau untuk vaksin dengan pertimbangan kondisi penyakit Anda terkendali, Anda bisa menerima vaksin Covid-19. Pastikan Anda selalu konsultasikanlah kondisi dengan dokter spesialis agar selalu terpantau, ya!

5. Alergi berat

Anda sempat mengalami reaksi alergi berat setelah dosis pertama vaksin? Saat mendapatkan penanganan dari dokter, ada kemungkinan Anda disarankan untuk tidak diberi dosis vaksin berikutnya.

Hal ini untuk mencegah Anda mengalami reaksi serupa, atau bahkan lebih berat.

Namun, bukan berarti Anda tidak mendapat vaksin sama sekali. Melansir Cleveland Clinic, peluang untuk melengkapi vaksinasi COVID bisa dicapai, apabila dokter menyarankan jenis vaksin lainnya yang dianggap lebih cocok dengan kondisi Anda.

Misalnya, jika pada dosis pertama Anda menerima vaksin mRNA (Pfizer dan Moderna), dokter akan menyarankan Anda mengganti jenis vaksin lain yang menggunakan platform berbeda.

6. Gangguan pembekuan darah

Bagi Anda yang sedang menjalani perawatan akibat gangguan pembekuan darah, sebaiknya tidak menerima vaksinasi terlebih dulu.

Menurut Satuan Gugus Tugas COVID-19 DKI Jakarta, kondisi gangguan pembekuan darah ini dikhawatirkan memperparah penyakit atau memicu komplikasi penyakit yang lain.

Tunggulah sampai dokter menyatakan kondisi Anda aman untuk mendapat vaksin. Barulah setelahnya Anda mendaftar untuk jadi penerima vaksin COVID-19.

7. Sedang positif terpapar COVID-19

Jika sedang terinfeksi virus COVID-19, Anda jelas tidak bisa menjadi kandidat penerima vaksin. Anda perlu menyembuhkan kondisi kesehatan dulu, misalnya dengan melakukan isolasi mandiri.

Setelah dinyatakan sembuh dari COVID, jadwalkan untuk mendapatkan vaksin dalam waktu tiga bulan setelahnya.

Baca juga: INFOGRAFIK: Vaksinasi COVID-19 Anak Usia 6-11 Tahun

Itulah daftar penderita penyakit yang tidak boleh menerima vaksin.

Jika Anda mengalami berbagai gejala dan keluhan yang mengarah ke COVID-19, manfaatkan telekonsultasi dengan dokter spesialis COVID yang ada di AlteaCare.

Telekonsultasi dari rumah saja menggunakan fitur panggilan video akan membuat Anda lebih nyaman berkomunikasi dengan dokter.

Yuk, unduh aplikasi AlteaCare dan segera buat janji dengan dokter andalan!



Sumber:

  • Satgas Covid-19 DKI Jakarta. Diakses pada April 2022. Alasan Kelompok Masyarakat Ini Tak Boleh Divaksinasi Covid-19
  • AIDSMAP. Diakses pada April 2022. CD4 Cell Counts
  • Everyday Health. Diakses pada April 2022. 12 Things People With Lupus Should Know About the COVID-19 Vaccine
  • American Thyroid Association. Diakses pada April 2022. COVID-19 Vaccine Frequently Asked Question
  • Cleveland Clinic. Diakses pada April 2022. Should You Get the COVID-19 Vaccine If You Have Allergies?
  • Healthline. Diakses pada April 2022. Who Can and Can’t Safely Get the COVID-19 Vaccine